"There were times when I could have strangled her. But you know, I would hate anything to happen to her."
-Girlfriend In a Coma-
Trifles
I like that what I post here means absolutely nothing to you.
Cheers
"Making your way in the world today takes everything you've got.
Taking a break from all your worries sure would help a lot.
Wouldn't you like to get away?
Sometimes you wanna go..
Where everybody knows your name
and they're always glad you came.
You wanna be where you can see,
the troubles are all the same.
you wanna be where everybody knows your name"
Taking a break from all your worries sure would help a lot.
Wouldn't you like to get away?
Sometimes you wanna go..
Where everybody knows your name
and they're always glad you came.
You wanna be where you can see,
the troubles are all the same.
you wanna be where everybody knows your name"
Ikhlas
Tidak ada penyesalan yang menyenangkan
Sebagaimana tidak ada hampir yang cukup
Sebagaimana tidak ada hampir yang cukup
Kini adalah persoalan ikhlas
Tenanglah. Bernafaslah
Istirahatlah untuk setahun dua tahun
Ikhlas akan tiba
Insyallah
Insyallah
Sampai Jumpa K
I bloody love my family (2)
Tulisan ini diambil dari blog kaka tertua saya, Ardi Wirdana yang dipost tanggal 8 Maret 2014. And to this day it still manages to put me in tears. Every single time. I feel reminded of how blessed I am. Then another part of me reminds me how I don't deserve all this.
Yep. I've definitely won the parent lottery. Alhamdulillah. A thousand times Alhamdulillah.
Belajar Menjadi, Dan
Dari, Orang Tua
Bismillahirrahmanirrahiim
Jika Allah
mengizinkan, saya akan diamanahkan seorang anak beberapa hari lagi. I can’t
really tell you how I am feeling - perasaannya mungkin terlalu campur
aduk. Tapi saya bisa sedikit berbagi tentang hal-hal yang mulai ngumpul
dikepala, dan yang paling utama adalah: “bagaimana caranya jadi orang tua yang
baik?”
Untuk menjawab
pertanyaan ini saya sudah mulai baca-baca beberapa judul buku dan article
tentang parenting. Tapi terus saya berpikir: “Ngapain saya capek-cape nyari
buku tentang parenting, sedangkan contoh real, nyata, terbukti dan sangat
terasa keberhasilannya ada di dalam hidup saya!”
Meminjam istilah yg
di pake Randy Pausch: “I won the parent lottery”. Kalo takdir
pembagian orang tua itu sebuah undian, maka saya dan adik2 saya lah pemenang
utamanya. Kami telah dihadiahkan oleh Allah orang tua yang terbaik. (Namun,
sedikit sekali kami bersyukur untuknya).
Kenapa saya merasa
beruntung? Well, let me tell you a tiny bit about my parents.
Pertama ibu. Ibu
itu selalu ada. Bener-bener physically selalu ada untuk anak-anak nya. Saya
mungkin akan menyinggung perasaan para atau calon ibu-ibu karir, but I don’t
really care. Keyakinan dan prinsip ibu adalah: Anak yang pulang sekolah
disambut oleh ibunya dirumah dan anak yang pulang disambut rumah kosong, itu
buat anak beda banget rasanya, dan sangat mempengaruhi pertumbuhan
psikologisnya. Alhamdulillah, seinget saya, sewaktu kecil kapanpun saya butuh
ibu, ibu selalu ada. Perhatiannya, kepeduliannya, kasih sayangnya itu total
buat anak-anaknya. Dan itu sangat terasa.
Hal lain yang membuat
saya terkesan dan sangat mempengaruhi saya adalah bahwa ibu ngajar dengan
memberi contoh. Ibu itu dhuha dan tahajudnya setiap hari hampir gak pernah
bolong. Begitu juga ngaji dan al-matsuratnya. Ini semua kelihatan sama
anak-anaknya bahkan sebelum dia nyuruh kita untuk membiasakan ibadah-ibadah
ini. Jadi waktu kita disuruh ya Alhamdulillah, tentu dengan izin Allah, jadi
gampang aja – anak anakya langsung ngerjain. Subhanallah. Sekarang
Alhamdulillah saya dan adik saya yang pertama, sebisa mungkin kita ga pernah
ninggalin dhuha dan tahajud. I don’t know about my two smallest brothers, but I
really hope they do too, karena ini selain sunnah Rasulullah Saw, tapi juga
kebiasaan ibu mereka yang gak pernah ditinggalkannya.
Ibu itu intra dan
inter personal skillsnya bagus banget, Dia sangat tau cara menempatkan diri di
tempat2 tertentu. Dia bisa banget bikin orang nyaman ngobrol sama dia. Termasuk
dengan anak-anaknya. She knows when to be strict and when to be friendly.
Semoga semua ini bisa nurun ke saya dan istri.
My dad. Well, he’s my
example, but I don’t know if I can make it. Saya selalu bilang: If I can be
just half as great as him, then I will be happy.
He’s a true family
man. Keluarga nomor satu. Titik! Kerja, temen, hobi, semua kalah sama keluarga.
Gak ada ceritanya di keluarga kami ayah pulang pas magrib. Maximal jam 5 udah
dirumah. Sempet ada tawaran kerja tambahan – uangnya gede, tapi waktu dan
pikiran abis dipekerjaan – ga ada yang bertahan sampe setengah tahun itu.
Selain itu yang keren
adalah dia selalu menyimpan sisi terbaiknya untuk keluarganya. Banyak
orang-orang yang kalo sama rekan kerja itu terlihat asyik, keren, perhatian,
tapi kalo udah pulang ke keluarganya mukanya capek, lesu, galak. My dad is the
opposite. Saat sama temen-temen kerja dia terlihat kaku and boring, tapi saat
bersama anak-anaknya dia berubah total – asyik, ketawa, becanda.
Dia orang paling sabar
sedunia. Seinget saya, ga pernah sekalipun dia meninggikan suaranya karena
marah sama anak-anak atau istrinya. Gak pernah. Never, not even once.
Mudah-mudahan saya bisa seperti ini.
Dia juga contoh sikap
‘biasa aja’. He’s probably a genius. Dia S3 di bidang material science. Orang
lain dengan pencapaian dia mungkin ngerasa pede dikit boleh lah. Tapi dia tetap
mempertahankan rasa rendah hati, malu, takut salah ngomong, bahkan ke
tukang-tukang dekat rumah.
Sekali lagi, semoga
saya dan istri, dan juga adik-adik saya beserta istri-istrinya, bisa mengadopsi
cara-cara Ibu dan Ayamu.
Seperti yang pernah
saya tweetkan belum lama ini, “If I (and my brothers) don’t become great
parents, then we only have ourselves to blame, coz we have the best example
right here at home”.
Ya Rabb, balaslah
kebaikan orangtuaku dengan Jannah untuk mereka. Aamiin.
Wallahu a’lam.
Semoga ada
manfaatnya.
Subscribe to:
Posts (Atom)

